You are here:

Tentang Pasar Lama

Sejak abad ke-15 hingga awal abad ke-19, Kota Tangerang merupakan kota pelabuhan, sungai Cisadane berperan sebagai sarana transportasi air utama yang menghubungkan daerah pedalaman dengan daerah pesisir. Berdasarkan Babad Sunda dalam kitab Tina Layang Parahyangan[3] menyebutkan bahwa, kedatangan rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) di muara sungai Cisadane (Teluk Naga) pada tahun 1407. Pada tahun 1526, penduduk etnis Jawa berdatangan ke Tangerang, yang berasal dari Kesultanan Demak dan Cirebon, lalu disusul dengan kedatangan etnis Betawi pada tahun 1680 yang pindah dari Batavia akibat bencana banjir. Kawasan Pasar Lama Tangerang ditetapkan sebagai cagar budaya dan masuk dalam program Kota Pusaka yang memiliki Spirit of Place (Jiwa atau roh sebuah tempat) yang terlihat signifikansinya di Klenteng Boen Tek Bio, Tangga Djamban, dan sirkulasi sekunder di kawasan Pasar Lama Tangerang.

Sejarah awal mula terbentuknya pasar Lama, dahulu tionghoa benteng banyak mendirikan lahan perkambungan di sekitar Tangerang, Teluk Naga, pasar Baru, dan pasar Lama. Di pasar Lama terdapat klenteng Boen Tek Bio yang sudah berdiri pada tahun 1684 yang menjelaskan kehidupan dan cara tionghoa benteng hidup. Secara garis keturuanan, tionghoa benteng berawal dari pelayaran Laksamana gang dan menikah dengan pribumi. Kampung ini dulunya sama seperti kampung pada umumnya yang melakukan aktivitas perdagangan, toko kelontong, toko makanan, dan masih banyak lagi. Seiring waktu, mulai berdatangan pedagang dari luar perkampungan, dan akhirnya pemerintah kota meresmikan pasar Lama menjadi pasar kuliner. Menurut Iwan Sugi (60) salah satu warga asli pasar Lama, sejarah pasar Lama merupakan kota tua di Kota Tangerang dan cenderung disebut Chinatown. Tapi, kebanyak pendatang dari Teluk Naga, pelabuhan ke daerah pasar Lama dan pasar Baru. Pasar Lama memiliki hubungan yang erat dengan orang tionghoa. Salah satu anak buah laksamana Cheng Ho diperintahkan ke Teluk Naga. Sehingga mereka menikah di sana kemudian pindah ke pasar Lama, pasar Baru, dan kali pasir. Salah satu contoh pada bangunan masjid kali pasir mempunyai atap berbentuk pagoda, masjid tersebut juga berdekatan dengan vihara atau klenteng Boen Tek Bio.

Rombongan Tjen Tjie Lung menetap, berbaur, dan menikah di tanah Jawa. Kelompok masyarakat Tionghoa Benteng juga semakin berkembang. Mereka mendirikan lebih banyak desa di beberapa daerah di sekitar Tangerang. Selain di Teluk Naga, mereka juga mendirikan pemukiman di Pasar Baru dan Pasar Lama.

Klenteng Boen Tek Bio di pasar Lama berlokasikan di Persimpangan Jalan Bhakti dan Jalan Cilame, Pasar Lama, Tangerang, Provinsi Banten. Lebih tepatnya di Jalan Bhakti No. 14 Kota Tangerang, Provinsi Banten, Indonesia. Sejarah Klenteng Boen Tek Bio tidak terlepas dari sejarah Kota Tangerang dan keberadaan orang beretnis Tionghoa yang tinggal di Tangerang.